Squash, Olahraga Ini Sangat Membantu Program Penurunan Berat Badan

Squash adalah olahraga yang ada sejak Abad ke-19 di London, Inggris. Ruang bermain squash boleh tampak kecil yakni hanya 6,4 m x 9,75 m, tapi nyatanya energi yang terkuras tiap bermain tidaklah sedikit. Squash lebih menguras tenaga. Lebih capek di sini karena bola ke mana saja harus dikejar.

Karena mobilitas dalam permainan squash lebih tinggi, orang lebih cepat lelah dalam bermain olahraga ini ketimbang voli. Kalori yang dibakar saat bermain squash memang lebih besar daripada tenis lapangan ataupun bulu tangkis. Berbeda dengan joging yang perlu waktu panjang. Untuk bakar kalori, dalam squash yang serius bisa membakar 500 kalori dalam permainan 5 menit.

Tak mengherankan jika banyak yang memilih olahraga ini untuk program penurunan berat badan. Squash juga melatih otot perut, bisep, dan trisep di lengan, juga kuadrisep di paha. Beberapa latihan fisik yang bisa menunjang permainan squash ialah latihan angkat beban, fleksibilitas, kelincahan, dan keseimbangan.

Banyak yang mengira bahwa squash terbilang olahraga mahal. Anggapan tersebut tidak terlepas dari banyaknya pemain dari kalangan ekspatriat. Lapangan olahraga ini juga banyak tersedia di hotel dan apartemen lantaran ekspatriat banyak tinggal di sana.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Harga perlengkapan squash sangat variatif dan bisa disesuaikan dengan kantong masing-masing. Misalnya membeli raket yang harganya Rp 300 ribu saja. Begitu pula dengan sepatu squash, tidak perlu langsung memaksa diri beli yang mahal. Demi mengurangi risiko cedera, jenis sepatu yang dibutuhkan dalam olahraga ini ialah yang alasnya berbahan karet mentah hingga tidak licin di lapangan. Warna alasnya juga dilarang hitam agar tidak berbekas di lantai kayu.

Lantai kayu yang menjadi alas dalam lapangan squash juga lumayan meredam pantulan bola karet berdiameter 4 cm itu. Sejatinya, lantai kayu itu juga berfungsi sebagai peredam getaran yang mengurangi risiko cedera lutut dan persendian pemainnya. Squash memang menuntut kecepatan dan ketangkasan.

Risiko cedera juga makin terbuka karena kedua pemain berada di lapangan yang sama. Itu berbeda dengan tenis di saat kedua pemain berada di bidang berbeda yang dipisahkan net. Gerakan mengayun raket yang berisiko mencederai lawan saat sedang berada di depan bisa dianggap sebagai pelanggaran. Makanya, olahraga ini tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga otak.

Meski sepintas tampak seperti tenis lapangan, squash sebenarnya sama sekali berbeda. Bola yang digunakan lebih kecil daripada bola tenis dan tanpa lapisan bulu di luarnya, begitu pun dengan ukuran raketnya lebih kecil. Net yang ada dalam permainan tenis lapangan sebagaimana bulu tangkis juga tidak ada, digantikan dinding yang ditandai dengan tiga garis pembatas. Sederet selebritas Tanah Air juga gemar berlatih squash, termasuk di antaranya penyanyi Raisa.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *