Sejarah dan Seluk Beluk Kempo

Olahraga beladiri Kempo berasal dari India, cikal bakal dari Silat India (Indo Kempo). Sekitar tahun 550 M seorang pendeta Budha yang bernama Dharma Taishi, pindah dari India ke daratan Tiongkok. Ia menetap di sebuah kuil yang dikenal dengan sebutan Shorinji. Dalam Kuil ia mengajarkan ilmu Indo Kempo kepada para calon pendeta Budha. Sebab menurut pendeta Dharma, tidak ada gunanya menjadi kosong’ atau ‘suci’ jika tidak dapat membela sesama manusia yang ditimpa kemalangan.

Untuk itu calon Bikshu tidak hanya pandai bersemedi saja melainkan juga menguasai ilmu beladiri, ini untuk bekal menyebarkan ajaran Budha yang cukup berat itu. Pada tahun 1928 seorang pemuda Jepang bernama Sho Dosin mempelajari ilmu Shorinji Kempo di kuil tersebut, dan mendapat bimbingan langsung dari Mahaguru (Sihang) Wen Tay Sun. Dengan tekun ia berlatih, dan karena kesetiaannya serta penguasaannya yang sempurna akan ilmu Kempo, maka Sho Dosin diberi penghargaan tertinggi menjadi Sihang ke-21, dan diperbolehkan meninggalkan kuil Shorinji untuk meneruskan ajaran Kempo di daratan Jepang.

Setelah 17 tahun menggembleng dirinya, Sihang Dosin di Jepang membuka Dojo (tempat latihan) sendiri. Ia memilih tempat di kota Tadotsu yang terletak di pulau Shikoku, yang kemudian terkenal sebagai pusat Shorinji Kempo. Yang juga merupakan pusat organisasi Kempo Dunia atau WOSKO (World Shorinji Kempo Organization). Pertama kali Kempo masuk Indonesia diperkenalkan oleh putra-putra Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Jepang.

Baca juga : Rutin Melakukan Olahraga Body Tech 5 Keuntungan Ini Bisa Didapat

Ketiga mahasiswa tersebut antara lain Utin Sahras, Indra Kartasasmita (V-Dan) dan Ginanjar Kartasasmita (mantan menteri). Mereka juga yang membentuk suatu wadah yang bernama PERKEMI (Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia) secara resmi tanggal 2 Pebruari 1966. Dan pada tahun 1970 Perkemi menjadi anggota KONI, juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo se-Dunia atau WOSKO. Kempo juga termasuk salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional.

Dari hanya beberapa murid dan berlatih di teras rumah waktu itu, kini Perkemi telah melahirkan ribuan Kenshi (Kenshi adalah pemain Kempo) yang tersebar di seluruh Tanah Air. Perkembangan yang pesat terutama pada dojo-dojo Perguruan Tinggi yang ada di setiap Propinsi. Bahkan Indonesia adalah negara yang terbanyak memiliki Kenshi, setelah Jepang.

Seni beladiri Kempo waktu itu menjadi sebagian dari latihan bagi para calon Bikshu, dengan sendirinya ilmu itu harus mempunyai dasar falsafah yang kuat. Dilandasi ajaran Budha yaitu dilarang membunuh dan menyakiti, maka pada semua Kenshi dilarang menyerang terlebih dahulu sebelum diserang. Hal ini juga menjadi falsafah Kempo, bahwa “Perangilah dirimu sebelum memerangi orang lain”. Falsafah ini, memberikan dampak pada susunan teknik beladiri Kempo. Gerakan-gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak atau menangkis serangan dahulu, baru kemudian membalas. Selanjutnya disesuaikan dan ditingkatkan menurut kebutuhan, yaitu keadaan serangan lawan. Artinya bila lawan itu sedang kilaf, cukup dielakkan saja. Karena tidak selalu setiap serangan dibalas kekerasan.

Baca juga : Capoeira, Paduan Olahraga Bela Diri dan Kesenian

Dalam ilmu Kempo ada jurus mengelak. Cukup menekukkan bagian badan lawan, kemudian mengunci. Dan bila terpaksa, barulah dilakukan serangan penghancuran pada titik kelemahan lawan, berupa tendangan pukulan, sikutan dan sebagainya. Bentuk yang pertama dikenal dengan Juho (lunak, lembut) dan bentuk penghancuran dikenal dengan Goho (keras). Untuk itu setiap Kenshi diharuskan menguasai teknik Juho dan Goho. Tidak dibenarkan hanya mementingkan pukulan dan tendangan sedang lipatan-lipatan penguncian dilupakan.

Maka dalam peraturan pertandingan, setiap Kenshi yang mengikuti Randori (perkelahian bebas) harus mengikuti Embu (kerapihan teknik). Dalam latihan, setiap Kenshi sebelum mempelajari teknik Juho maupun Goho, diharuskan dulu melakukan gerakan dasar (Kihon). Gerakan dasar ini harus dikuasai dengan betul dan membentuk teknik dasar Kempo. Misalnya, tenaga pukulan tidak hanya kekuatan otot tangan dan bahu, melainkan juga tenaga pukulan yang disalurkan dari perputaran pinggul dan bahu. Waktu melancarkan pukulan atau menangkis, berat badan hanya ada di satu tumpuan. Jadi waktu memukul dengan tangan kanan berat badan ada di kaki kiri, sehingga kaki kanan yang tidak punya beban sudah dalam keadaan siap untuk menyerang lagi. Begitu juga waktu menangkis, dengan segera dapat membalas. Kecepatan menjadi unsur penting. Ketika melakukan lipatan penguncian tenaga juga diambil dari perputaran pinggul dan bahu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *