Saatnya Tepis 4 Mitos Kanker

Tak ada yang menampik bahwa kanker menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Dua tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 8,2 juta kematian di dunia disebabkan oleh kanker.

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kematian akibat kanker yang cukup tinggi. Sayangnya, di tengah masyarakat Indonesia, informasi tentang kanker ini berbaur antara fakta dan mitos. Kepercayaan terhadap mitos kanker tersebut menjadi salah satu kendala pengentasan penyakit kanker di negeri ini.

Ada empat mitos yang kerap dipercaya masyarakat sebagai kebenaran. Keempat mitos tentang kanker itu adalah sebagai berikut:

  1. Kanker tidak bisa disembuhkan

Salah besar! Data statistik dapat mambuktikan bahwa dua kanker penyebab kematian tertinggi di dunia yaitu kanker leher rahim (serviks) dan payudara dapat disembuhkan. Bahkan, kanker leher rahim jika diketahui pada stadium dini atau stadium nol, maka tingkat kesembuhannya adalah 100%. Upaya untuk mengetahui keberadaan kanker leher rahim hanya dilakukan pap smear atau iva test. Sementara pada kanker payudara dapat dideteksi secara dini melalui mamografi atau USG. Kanker payudara bisa diketahui pada stadium nol, dan jika diobati pada stadium ini maka tingkat kesembuhannya hingga 98%.

Memang untuk kanker yang ada di rongga dada dan perut agak sulit untuk dideteksi lebih dini. Tapi semuanya dapat dideteksi melalui medical check up yang dilakukan secara berkala. Jadi, kunci dari semua kanker adalah deteksi dini. Jika diketahui lebih dini, maka kanker dapat diatasi.

  1. Pengobatan alternatif dapat sembuhkan kanker

Hingga saat ini, pengobatan alternatif belum bisa dijadikan sebagai pengobatan utama kanker. Namun, pengobatan alternatif dapat dilakukan sebagai pengobatan komplementer (tambahan) selain pengobatan medis yang harus tetap diutamakan. Kanker adalah masalah medis, maka penanganannya pun harus secara medis. Pengobatan alternatif dapat dilakukan selama berefek positif terhadap pasien penderita kanker seperti meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu makan atau mengurangi mual dan lain-lain. 

  1. Kanker tidak boleh dibiopsi

Banyak yang beranggapan kalau dilakukan tindakan biopsi, maka kanker akan lebih menyebar pada tubuh si penderita. Itu benar kalau dilakukan dengan tidak benar. Menurut dia, biopsi memiliki dua tujuan yakni untuk mengambil sampel jaringan kanker dan pengobatan. Terdapat tiga cara biopsi yang biasa dilakukan oleh dokter yaitu biopsi aspirasi jarum halus (bajah), biopsi jarum kasar, dan biopsi terbuka atau operasi.

Setiap tindakan biopsi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua itu akan selalu dikomunikasikan dokter terhadap pasien. Namun demikian, kemajuan teknologi kedokteran saat ini dapat memberikan informasi yang lebih dan tepat hingga dapat menghemat banyak waktu, tenaga, dan materi.

  1. Kemoterapi memperparah kondisi penderita kanker

Setelah pengangkatan sel kanker, kita tidak tahu sejauh mana sel kanker ito tetafe menyebar di dalam tubuh si penderita. Satu-satunya media yang dapat menjangkau sebuah darah. Kemoterapi adalah upaya yang dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker di kelenjar getah bening.

Efek samping kemoterapi memang cukup berat. Tubuh penderita kanker asa terbebani selama proses kemoterapi ini dan biasanya akan turun drastis. Efek samping kemoterapi memang berat. Tapi dokter akan selalu menimbang manfaat dan mudaratnya. Kalau manfaatnya besar tapi risikonya juga besar, maka tetap diambil.  Kalau pengobatan kemoterapi ini telah usai, maka tubuh akan kembali pulih seperti sediakala.

Jadi, keempat mitos tadi sudah saatnya ditepis. Menggali informasi yang lebih dalam dan benar tentang kanker sangat dibutuhkan untuk membantah semua mitos tadi. Menjaga kebugaran tubuh, mendeteksi secara lebih dini, serta menyegerakan untuk berobat ke fasilitas medis adalah tiga hal yang dapat dilakukan segera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *