Masihkah Antiretroviral Diandalkan untuk Atasi Infeksi HIV-AIDS?

AIDS telah diidentifikasi pada tahun 1981 dan virus HIV (human immunodeficiency virus) sebagai penyebabnya ditemukan tahun 1983. AIDS (acquired immune deficiency syndrome) telah membunuh jutaan urnat manusla, baik rakyat biasa maupun para selebriti dunia. Peperangan untuk melawan penyakit ini dimulai dengan serangkaian percobaan untuk mendapatkan obat yang dapat melawan virus HIV. Obat itu disebut antiretroviral disingkat ARV.

Sebagai kompilasi dari berbagai penelitian bermacam jenis obat ARV sejak tahun 1983, pada tahun 1996 telah dicanangkan HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy). Prinsipnya untuk memerangi virus HIV diperlukan kombinasi tiga atau empat macam obat dengan cara kerja yang berbeda. ARV harus diminum secara teratur, penuh kedisiplinan, tabah, dan sabar. Terakhir, yang terpenting yakni harus diminum seumur hidup.

Memang ARV belum bisa membasmi virus HIV, tetapi obat ini menekan pertumbuhan virus HIV sehingga orang yang terserang virus ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kembali ke kehidupan seperti sediakala, tidak terserang oleh penyakit akibat infeksi oportunistis. Infeksi oportunistis merupakan penyebab kematian pada infeksi HIV, berupa infeksi jamur, TBC, virus lain, protozoa, yang tidak bisa menyerang orang dengan kekebalan tubuh baik. Virus HIV sendiri tidak menyebabkan kematian.

Penderita infeksi HIV-AIDS perlu dipersiapkan dahulu mentalnya untuk menerima ARV ini. Tak mudah untuk mengharuskan seseorang minum obat secara teratur dan seumur hidup. Persiapan ini disebut konseling kepatuhan yang bisa dilakukan oleh dokter atau petugas medis lain. Persiapan harus dilakukan juga oleh dokter. Memberi obat ARV memerlukan pengetahuan yang cukup tentang indikasi, cara pemberian, mengatasi efek samping, dan mengubah obat ARV dari satu golongan ke golongan lain.

Pola peyebaran infeksi HIV berubah, dari pemakai narkoba suntik menjadi jalur seksual. Ini mengkhawatirkan karena penularan terjadi dengan cepat tanpa disadari. Diperlukan informasi yang baik pada masyarakat tentang cara mencegah penularan ataupun cara hidup berdampingan dengan penderita infeksi HIV-AIDS.

Cara Kerja Antiretroviral (ARV)

Memberikan ARV tidak seperti memberi obat demam yang akan langsung terasa efeknya. ARV akan bekerja secara perlahan-lahan meningkatkan daya tahan tubuh yang ditandai dengan meningkatnya jumlah CD4 dan ditandai pula dengan jumlah virus atau Viral Load yang tidak terdeteksi.

Saat ini telah tersedia ARV dalam kombinasi beberapa macam obat dalam satu tablet sehingga penderita tak dihantui oleh jumlah obat yang banyak. Perlu diketahui bahwa obat ini tidak dijual bebas di apotek melainkan di tempat yang ditunjuk pemerintah. Para dokter pemerhati AIDS di Indonesia masih antusias menunggu obat ARV jenis baru atau jenis yang akan disediakan di Indonesia agar pengobatan penderita menjadi lebih baik.

Jutaan umat manusia yang terselamatkan oleh ARV sudah menjadi kenyataan di seluruh dunia. Penelitian masih berlangsung dengan sokongan dana yang tidak sedikit untuk mendapatkan obat yang benar-benar mematikan virus HIV yang sampai saat ini belum ada. Jadi, sampai saat ini, HAART masih merupakan tulang punggung pengobatan HIV-AIDS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *