Bantu Saudara Kita di Sudan Selatan Demi Kemanusiaan

Sudan Selatan adalah salah satu negara di Benua Afrika yang rata – rata penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Beberapa hal menjadi faktor semakin buruknya kondisi masyarakat Sudan Selatan. 2 hal paling dominan yang memperparah kesejahteraan rakyat adalah pemberontakan dan kelaparan. 

Pada tanggal 25 Maret 2017, pemberontakan telah membunuh 6 orang relawan yang memberikan bantuan untuk makanan dan pelayanan gizi. Peristiwa itu terjadi di Daerah Juba. Akibat dari kurangnya bantuan serta pemberontakan, para korban kalaparan yang terutama adalah anak – anak terjangkit penyakit dan kekurangan gizi. Berdasarkan informasi PBB, pemberontak melakukan penyergapan. 3 korban berasal dari Sudan Selatan,dan 3 lainnya adalah penduduk Kenya.

Tercatat, 4,9 juta penduduk Sudan Selatan mengalami kelaparan selama beberapa waktu terakhir. Tidak hanya itu, mereke juga kesulitan dalam mengakses seluruh fasilitas kesehatan fisik dan mental. Beberapa titik diblokir oleh pasukan anti pemerintah yang kejam. Jadi, banyak bantuan yang distop oleh kelompoktersebut dan tidak diberikan kepada penduduk asli. Bahkan, negara sebesar Jepang pun pada akhirnya geram dengan perbuatan mereka sehingga sampai mendaratkan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF). Sayangnya, misi tersebut akan berakhir bulan Mei yang akan datang.

Juru Bicara PBB, Dujarric menjelaskan bahwa saat ini bantuan dititikberatkan pada tim perlindungan anak, kesehatan sanitasi, serta perbaikan gizi. Seperti halnya di Somalia, Sudan Selatan yang memiliki banyak pengungsi juga sedang dalam masa darurat kolera. Artinya, pemberian vaksin sangat dibutuhkan sebagai langkah pembenahan tingkat kesehatan.

Perang yang berkecamuk sejak tahun 2013 terus memperburuk situasi di daerah tersebut. Terlebih lagi, serangan besar – besaran tahun 2016 menyebabkan kenaikan inflasi 800% dan menurunkan kemampuan masyarakat dalam membeli kebutuhan pokok. Oleh karena itu, tentu kita harus peduli sesama, dan turut memberikan berbagai bantuan untuk saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

Untuk bantuan ke Sudan Selatan, masyarakat Indonesia melalui lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah mengirimkan berbagaibantuan ke daerah Mayendit – Al Wahdah, dan daerah Leer. Kedua daerah tersebut merupakan puncak ledakan bencana kelaparan dan korbannya yang kian melonjak. Hal ini dinilai sudah sangat tepat mengingat krisis pangan tersebut sudah diambang batas dan bisa menyebabkan banyak kasus kematian. Yang lebih parah lagi, jumlahnya mencapai 4,1 jumlah  korban meninggal setiap 10.000 di sana.

Melalui tagar #LetsACTIndonesia dan #SaveHumanity, ACT berusaha mengumpulkan donasi sebanyak – banyaknya. Kita sebagai masyarakat yang tidak terjebak konflik dan kelaparan sudah seharusnya membantu. Sampai saat ini, zona merah atau daerah pusat konflik masih belum terjangkau. Tetapi melalui berbagai negosiasi legalitas, ACT terus berusaha menyampaikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *